Spermatisida !!!
” Terkadang pena akan lancar menuliskan
sebuah cerita dalam secarik lembaran kertas,
dan ada kalanya pena itu akan mengalami
kerusakan, entah tinta atau roda kecil di
ujungnya mengalami permacetan permanent. “
Kembali ke masa kanak - kanak dulu, saat
semua terasa menyenangkan, saat setiap
gerak kita menimbulkan pertanyaan dan gelak
tawa bagi orang - orang disekitar kita.
Namun tidak semua anak dapat berlaku
rumus itu. Beberapa diantaranya berebut,
bergelak mencari sebuah pengakuan pada
lingkungan sekitar untuk mendapatkan sebuah
gelar walaupun sebenarnya ada beberapa
gelar tapi mereka lebih memilih salah satu dari
gelar itu. Gelar itu antara lain : Anak baik,
Anak cengeng, Anak bandel, dan juga
kombinasi gabungan dari ketiga gelar itu, Anak
baik bandel tapi cengeng, Anak cengeng baik
tapi bandel ( Loh, apa bedanya ?)
Sebenarnya ada banyak gelar yang dapat
tersematkan tapi aku lebih memilih ketiga itu.
Aku ???
Sudah tentu aku memiliki salah satu dari gelar
tersebut. Aku yang sejak awal ( sebelum lahir )
telah mengalahkan ratusan bahkan ribuan
pejuang Spermatozoa lain, telah melakukan
pertarungan sengit terlebih dahulu. Saling
pukul, membanting, hingga saling menggigit
ekor satu sama lain agar tidak ada yang
mampu menyaingi kecepatanku. Ini adalah
perebutan tempat bermetamorfose dalam
sebuah kepompong bernama “rahim”, karena
hanya tersedia satu tempat didalamnya.
Sudah tentu aku tidak mampu mengingat apa
yang terjadi kemudian daripada itu, hingga
akhirnya usiaku beranjak 1th.
Usia balita yang seharusnya aku habiskan
untuk memabukan diri pada ASI ( Air Susu
Instan ) malah aku habiskan sebagai pecandu.
Tubuhku akan mengejang, panas, hingga tak
sadar diri jika aku tidak mendapatkan suntik
ataupun obat - obatan itu »> Sakau !!!
Berat badanku menurun drastis karenanya
( mungkin akan terbang jika tertiup angin ).
Tapi pak Tuhan tau penderitaanku, mengerti
sekali saat aku menjadi seorang pecandu
karena keadaan. Maka Ia dengan segera telah
memberiku pengasuh ( Ibu ) untuk
menopangku, menggendongku, menahan
tubuhku saat tertiup angin hingga aku dapat
terbebas sebagai pecandu.
Dua tahun lamanya aku menjadi seorang
pecandu, hingga akhirnya aku di vonis bebas
obat pada bulan april 1993. ( Aku tahu, bukan
aku mampu mengingatnya, tapi pengasuhku
yang menjelaskan.)
Mungkin karena terlalu lama menikmati diri
sebagai pecandu membuatku lupa akan
sahabatku ASI, sehingga akupun memutuskan
kembali bergumul dengannya hingga berumur
6th. Aku tak pernah meninggalkannya
sekalipun dalam hidupku ( paling lama 4 jam ).
Dan setelah puas bercumbu dengan sahabatku
maka dimulailah suatu fase yang benar - benar
180° berbalik dari kehidupanku sebelumnya.
Fase itu adalah fase pendidikan militer daratis
dari seorang Jendral Besar angkatan perang
rumah doyong ( ayah ). Seorang pensiunan
militer kampung ( mungkin preman di masa
mudanya ) bersenjatakan sebuah cambuk
( sapu ) dan menyengkelit sepucuk pistol
berkaliber super duper di masa itu yang
mampu menembakan 3 peluru ( sandal jepit )
sekaligus.
Hari - hariku pasti akan terasa berat setelah
pengasuhku pergi untuk beberapa tahun
kedepan.
( To be continued … )





















